UPNORMAL dalam Buku Indonesian Coffee Craft & Culture

Updated: Jul 9, 2019


28 Desember 2018 - Aroma semerbak disertai dengan rasa kompleks yang digemari menjadikan kopi kembali menjadi primadona di tanah air. Bukan hanya itu saja, saat ini tidak ada waktu paten yang dijadwalkan sebagai “waktunya ngopi”, karena kopi sudah menjadi minuman pergaulan masyarakat Indonesia yang berlangsung tak kenal waktu.


Dahulu, bubuk kopi hitam ini hanya diseduh dengan air mendidih langsung di gelas penikmatnya. Mungkin hanya dicampurkan dengan bongkahan arang menyala sehingga kata orang Yogyakarta akan lebih “joss”, atau ditambahkan telur sehingga dapat meningkatkan stamina seperti Kopi Talua khas Tanah Minang.


Zaman sudah berubah, akses mendapatkan informasi tidak sesulit dulu sehingga kini masyarakat Indonesia lebih teredukasi lagi tentang berbagai hal. Salah satu efeknya, semakin banyak penikmat kopi dari berbagai profesi, rentang umur, dan latar belakang ekonomi. Keheterogenan penikmat kopi inilah yang menjadi tantangan bagi pelaku ekonomi untuk lebih kreatif lagi dalam “menjual dagangan” mereka. Oleh karena itu, kini kopi bukan hanya sekedar minuman hitam pekat hangat yang disajikan di warung kopi, melainkan sebuah cerita panjang dari hulu ke hilir.


Melihat potensi yang luar biasa di balik bisnis Kopi Indonesia ini, pada 12 Desember 2018 BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) meluncurkan sebuah buku ‘KOPI: Indonesian Coffee Craft & Culture’ di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta. Dalam buku ini, Upnormal Coffee Roasters disebut sebagai salah satu pelaku ekonomi kreatif yang berkeyakinan bahwa semua orang bisa menikmati kopi yang baik.


Ulasan mengenai Upnormal Coffee Roasters terdapat pada bagian “The Crafty Bunch: A Wave to Call Our Own”. Bagian ini mengangkat beberapa kedai kopi yang berperan besar dalam terbentuknya kultur ‘ngopibaru di Indonesia yang salah satunya ditandai dengan kepopuleran Es Kopi Susu Arabika dengan Gula Merah.


Jika dibandingkan dengan masa lalu, konsumsi kopi jenis arabika kini lebih besar. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi petani kopi arabika karena permintaan dalam negeri kian melonjak. Tidak hanya itu, dengan terkenalnya kopi jenis ini, para coffee crafter berlomba-lomba menemukan proses pembuatan kopi yang dapat mengeluarkan seluruh kelebihan arabika, namun tetap dibandrol dengan harga yang terjangkau. Perubahan-perubahan inilah yang dinilai dipengaruhi oleh Upnormal dan kedai kopi lainnya.


Buku yang juga berisikan informasi tentang asal mula kopi, daerah Indonesia mana saja yang menjadi tanah kopi, proses-proses yang dilalui oleh buah kopi hingga siap dikonsumsi, cara penyeduhan, hingga hal-hal lain yang berkaitan langsung dengan Kopi Indonesia ini di-release oleh Ketua BEKRAF, Triawan Munaf dalam pembukaan acara peluncuran buku ‘KOPI: Indonesian Coffee Craft & Culture’ yang dimulai pukul 12.00 WIB. Dihadapan para tamu yang hadir, Triawan mengucapkan terima kasih kepada mendiang Bondan Winarno, salah satu ikon dunia kuliner Indonesia yang telah ikut berkontribusi dalam proyek pembuatan buku ini. Menurutnya, kecintaan dan passion mendiang terhadap Kopi Indonesia yang tertera dalam buku ini akan menjadi warisan berharga bagi kita dan generasi mendatang.


Selanjutnya, rangkaian acara peluncuran buku ini juga menghadirkan penulis buku ‘KOPI: Indonesian Coffee Craft & Culture’, Andi Haswidi; Deputi Pemasaran Bekraf, Joshua Puji Mulia Simandjuntak; perwakilan petani kopi, Eko Purnomowidi; Project Manager Afterhours, Linda Rustaram, serta wakil ketua SCAI (Specialty Coffee Association of Indonesia) sekaligus pegiat kerjasama lintas lembaga dan komunitas kopi, Daroe Handojo dalam satu sesi talk show. Kelima narasumber tersebut memaparkan kisah dibalik pembuatan buku ini.

Media Relations CRP Group, Bunga Prima yang hadir dalam acara peluncuran buku ini menyebutkan bahwa kemunculan Upnormal Coffee Roasters dalam buku ‘KOPI: Indonesian Coffee Craft & Culture’ merupakan sebuah apresiasi kepada setiap pelaku ekonomi kreatif di lini kopi khususnya Upnormal. Menurutnya, apresisasi ini memberikan semangat untuk mem-branding Kopi Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri.


Peluncuran buku ‘KOPI: Indonesian Coffee Craft & Culture’ merupakan salah satu dari banyak upaya yang dilakukan oleh BEKRAF untuk mendukung industri kreatif nasional dari bisnis Kopi Indonesia. Sebelumnya, pada Kamis (22/11), lembaga pemerintah non kementerian ini juga mengenalkan logo ‘KOPI INDONESIA’ sebagai salah satu generic branding untuk memajukan industri kreatif di bidang kuliner Kopi Indonesia.


Menanggapi logo Kopi Indonesia keluaran BEKRAF, Bunga mengatakan bahwa Upnormal adalah brand lokal yang pertama kali membubuhkan logo tersebut di kemasan roasted beans (biji kopi matang) yang di ekspor ke Amerika Serikat. Ia berharap dengan adanya logo ini, kopi Indonesia dapat dikenal sebagai “Kopi Indonesia”, bukan hanya sebagai komoditas lagi.

© 2019 PT Citarasaprima Indonesia Berjaya

CRP Group