Big Exposure! Ini Dia 3 Jurus Agar Diliput Media Massa

Updated: Jul 9, 2019


03 Januari 2019 - Dapat menyebarkan informasi secara luas, serempak, dan lebih profesional merupakan beberapa manfaat media massa yang perlu diperhatikan oleh entrepreneur. Sebab, dengan manfaat tersebut bisnis yang dimiliki oleh seorang entrepreneur dapat dikenal oleh banyak orang hingga dapat membangun citra positif yang dapat berguna bagi keberlangsungan bisnis. Berikut 3 cara yang dapat diterapkan untuk menciptakan terpaan media terhadap brand oleh Media Relations CRP Group, Jelita Pramesti dalam kesempatan Sedekah Ilmu Bisnis ke-42: How to Give Your Brand More Exposure!


1. Building Personal Contact

“Dahulu, CRP Group fokus pada media apa yang digunakan target market untuk memperoleh informasi. Karena sebagian besar target market kami adalah ‘gank milenial’, maka pada waktu itu kami fokus mencari formula komunikasi pada media sosial,” ungkap Jelita membuka sesinya, pada 22 Desember 2019. Ia menambahkan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, brand-brand CRP Group semakin berkembang, semakin banyak gerai yang hadir di daerah tertentu, serta semakin beragam pula media komunikasi yang digunakan oleh target market CRP Group. “Saat itu kami memprediksi jika audience kami akan lebih beragam, akan lebih luas (secara geografi), dan akan lebih heterogen lagi. Oleh karena itu, kami mulai membangun hubungan dengan media massa. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara memulai hubungan ini?” jelas Jelita pada 22 Desember 2018.


Jawabannya adalah membangun personal contact. Jelita menjelaskan bahwa langkah awal untuk membangun personal contact adalah dengan mengirimkan e-mail. “Kondisinya adalah kita sama sekali belum memiliki kontak pribadi media, hal yang paling mungkin dilakukan adalah mengirimkan e-mail kepada redaksi media tersebut,” tuturnya. Ia melanjutkan, bahwa biasanya media massa mencantumkan alamat e-mail redaksi yang bisa dihubungi pada website-nya. “Kita bisa membuat daftar media yang sesuai dengan target market kita beserta alamat e-mailnya. Selanjutnya kita bisa mengirimkan e-mail perkenalan (brand), atau sebuah undangan untuk mengunjungi gerai kita, dan lain sebagainya,” ungkap Jelita. Menurutnya, jika ada satu orang media yang merespon e-mail tersebut, maka ia bisa kita mintakan tolong untuk meyebarkan undangan atau informasi lainnya kepada media lain. “Saat itu saya dapat informasi kalau para wartawan atau media ini bisa jadi saling kenal karena sering meliput peristiwa yang sama di waktu yang sama pula. Oleh karena itu, saya sering minta kontak media lainnya yang sekiranya bisa saya undang juga atau meminta tolong kepada salah satu (orang) media yang merespon tersebut untuk menyebarkan kembali informasi kepada media lainnya.”


Setelah perkenalan melaui e-mail, Jelita menambahkan bahwa kita perlu bertemu dengan media tersebut secara langsung. Menurutnya, pertemuan ini akan memungkinkan kita untuk berkomunikasi secara lebih dekat lagi. “Saya percaya jika komunikasi tatap muka yang kita lakukan terus menerus akan menumbuhkan hubungan yang lebih intim lagi. Saya akan membuat kegiatan-kegiatan lainnya yang mempertemukan kami, tidak hanya sekali,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa kontak pribadi ini dapat terbangun dengan baik jika kita bisa berteman dengan media. Adapun media komunikasi yang ia sarankan untuk menjalin pertemanan dengan media tersebut adalah Instagram. “Kita bisa ‘say hi’ di kolom komentar atau di Insta Story mereka. Kita perlu berkomunikasi dan menunjukkan bahwa kita ada, kita memperhatikan, tentunya dengan cara yang asik dan friendly,” ungkap wanita berkaca mata ini.


2. News Service

Melanjutkan pembahasannya, Jelita menuturkan bahwa kita harus memenuhi kebutuhan informasi media dengan cara memberikan news service. Karena pada hakikatnya, media membutuhkan bahan yang dapat mereka angkat sebagai berita.


Pertama adalah Press Release. Press Release adalah sebuah tulisan berisikan informasi tentang brand kita atau apa saja yang sedang terjadi di brand kita. Tulisan ini bisa kita berikan kepada media, baik langsung atau melalui e-mail,” singkat Jelita. Karena press release ini disebar sebagai bahan berita bagi media, maka sebaiknya kita menulisnya dengan sederhana, lengkap, tidak panjang, dan menyajikan data fakta. Hal tersebut dianggap perlu karena waktu yang dimiliki oleh media tidak banyak. “Salah satu wartawan regional Jawa Barat mengatakan kepada saya bahwa setiap harinya mereka perlu meliput banyak tempat, menaikan belasan berita online, belum lagi berita cetak yang harus ditulis lebih menyeluruh,” ungkap Jelita.


Kedua adalah Press Conference dan Media Gathering. Press conference dan media gathering adalah acara khusus yang dibuat untuk mengumpulkan media-media dalam satu waktu dan tempat yang sama. Acara ini berisikan kegiatan penyampaian informasi dari pemilik brand kepada media. “Perbedaan press conference dan media gathering terletak pada susunan acaranya. Jika press conference memiliki susunan acara yang lebih serius, maka media gathering akan terasa seperti pertemuan antar teman, pertemuan yang lebih santai dan hangat,” ujar Jelita. Ia menambahkan bahwa selama ini yang sering digunakan oleh CRP Group adalah kegiatan media gathering. Menurutnya, bentuk acara ini lebih cocok dengan image brand-brand CRP Group yang ‘milenials banget’. Selain itu, konsep media gathering memungkinkan ia untuk dapat berinteraksi langsung dan menumbuhkan hubungan yang lebih dekat lagi dengan media. “Kita juga pernah menggelar press conference ketika di Upnormal Coffee Roasters Jalan Kaliurang, Jogja. Konsep tersebut kami pakai karena tujuan utamanya adalah untuk menginformasikan jika kami membuka gerai dengan konsep khusus, full mural, dan untuk memperkenalkan siapa seniman dibalik semua mural di sana,” tutur Jelita.


Ketiga adalah Interview. Berdasarkan pengalaman Jelita, interview atau wawancara biasanya merupakan kelanjutan dari press release yang sudah ia sebarkan. Tips penting yang disampaikan Jelita pada kegiatan yang dilaksanakan di Paberik Kopi Upnormal Coffee Roasters Cihampelas, Bandung tersebut adalah menanyakan daftar pertanyaan kepada media yang mengajukan wawancara. “Kita perlu menanyakan list pertanyaan, atau materi apa yang akan ditanyakan oleh media. Hal tersebut dapat digunakan sebagai pegangan kita untuk menjawab dengan baik dan benar,” ujar Jelita. Ia menambahkan bahwa media merupakan salah satu orang terjujur yang pernah ada, karena media menuliskan atau mengabarkan apa yang pertama ia lihat dan dengar, tanpa mengurangi atau menambahkan. Sehingga, persiapan diperlukan agar informasi yang diberitakan media akan sesuai pada tujuan awal kita.


Keempat adalah Press Tour. Kita dapat mengajak media untuk melihat langsung ke area produksi kita atau area lain di gerai kita, namun perlu dipastikan semua kegiatan yang dapat dilihat oleh media berjalan sesuai dengan prosedur dan standar. Jelita juga menambahkan bahwa kita juga perlu untuk membuat susunan acaranya. Misal, media akan dibawa ke titik mana saja, informasi apa yang akan disampaikan di tiap titik tersebut, dan lain sebagainya.


Hal yang membuat penasaran berikutnya adalah, informasi seperti apa yang bisa kita sampaikan dalam kegiatan membangun kontak pribadi dengan media? Jelita langsung mengatakan, “Kita harus menyajikan news value.” News value merupakan nilai-nilai yang ada di dalam sebuah peristiwa sehingga media akan memberitakan peristiwa tersebut. “Informasi yang bisa kita sajikan sekiranya memiliki Impact (dampak), Timelineness (aktual), Magnitude (sesuatu hal yang berhubungan dengan orang banyak atau area yang luas), Proximity (kedekatan secara geografis ataupun emosional), Human Interest (sesuatu hal yang dapat membangunkan sisi humanis manusia), Prominence (terdapat public figure atau orang terkenal yang terlibat dalam peristiwa tersebut), Currency (sesuatu yang sedang hangat diperbincangkan), Bizareness (hal-hal aneh; misal kambing bermata tiga), atau Conflict (konflik),” jelas Jelita. Salah satu peserta bertanya kepada Jelita, “Jika bisnis yang dimiliki berbasis online, tanpa gerai, dan tanpa area produksi yang sesuai, maka apa yang bisa kita lakukan?” Jelita menjawab, “kita bisa mengirimkan press release yang isinya memperkenalkan brand kita, ataupun kita bisa membuat suatu peristiwa yang memiliki news value tersebut.” Ia juga menambahkan bahwa kemampuan komunikasi baik verbal maupun tertulis perlu dikembangkan, sehingga informasi bernilai berita yang akan kita sebar dapat disampaikan dengan baik.


3. Let’s Start a Good Relationship with Them

“Hubungan yang baik dengan media massa ini dibangun dengan menggunakan komunikasi yang tepat dan friendly, hal tersebut dapat mengefektifkan semua usaha kita untuk memberikan exposure terhadap brand kita. Oleh karena itu, sudah saatnya kita untuk membangun hubungan baik dengan mereka,” tutup Jelita.


Sedekah Iimu Bisnis merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh CRP Group. Sebelumnya, Sedekah Ilmu yang sudah dilaksanakan 42 kali ini banyak membahas tentang bagaimana membangun bisnis dari nol, bagaimana membuat presentasi bisnis yang baik, bagaimana dampak media sosial terhadap bisnis, dan lain sebagainya. Ditemui pada kesempatan yang berbeda, Tim Event CRP Group, Sammy Iqbar, mengatakan bahwa bagi pebisnis yang belum berkesempatan hadir tidak perlu khawatir, karena mereka dapat mengikuti Sedekah Ilmu berikutnya dengan jadwal yang akan diinformasikan melalui seluruh media sosial brand CRP Group.

© 2019 PT Citarasaprima Indonesia Berjaya

CRP Group